Ringkasan
Materi UTS SKI
SEJARAH AWAL BERDIRINYA
DINASTI/DAULAH ABBASIYAH
Sejarah Awal Berdirinya Dinasti Abbasiyah
Awal Berdirinya bani abbasiyah adalah
dikarenakan pada masa pemerintahan Bani Umaiyyah pada masa pemerintahan khalifah Hisyam ibn abdi al-Malik muncul kekuatan baru yang menjadi tantangan berat bagi pemerintahan bani umayyah. Kekuatan itu berasal dari kalangan bani hasyim yang dipelopori keturunan al-Abbas ibn abd al-muthalib. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari golongan syiah dan kaum mawali yang merasa di kelas duakan olehpemerintahan bani umayyah. Pada waktu itu ada beberapa factor yang menyebabkan dinasti umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran, akhirnya pada tahun 132 H (750 M) tumbanglah daulah umayyah dengan terbunuhnya khalifah terakhir yaitu Marwan bin Muhammad dan pada tahun itu berdirilah kekuasaan dinasti bani abbas atau khalifah abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini keturunan al-Abbas paman Nabi Muhammad Saw., dinasti abbasiyah didirikan oleh Abdullah ibn al-Abbas. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang dari tahun 132 H sampai dengan 656 H. selama berkuasa pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, social dan budaya. Dinasti Abbasiyah di samping bercorak Arab murni, juga terpengaruh dengan corak pemikiran dan peradaban Persia, Romawi Timur, Mesir, dan sebagainya. Juga dinasti Abbasiyah ini sistem politiknya lebih bersifat demokratis dari pada dinasti Umayyah yang Orientalis.
dikarenakan pada masa pemerintahan Bani Umaiyyah pada masa pemerintahan khalifah Hisyam ibn abdi al-Malik muncul kekuatan baru yang menjadi tantangan berat bagi pemerintahan bani umayyah. Kekuatan itu berasal dari kalangan bani hasyim yang dipelopori keturunan al-Abbas ibn abd al-muthalib. Gerakan ini mendapat dukungan penuh dari golongan syiah dan kaum mawali yang merasa di kelas duakan olehpemerintahan bani umayyah. Pada waktu itu ada beberapa factor yang menyebabkan dinasti umayyah lemah dan membawanya kepada kehancuran, akhirnya pada tahun 132 H (750 M) tumbanglah daulah umayyah dengan terbunuhnya khalifah terakhir yaitu Marwan bin Muhammad dan pada tahun itu berdirilah kekuasaan dinasti bani abbas atau khalifah abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini keturunan al-Abbas paman Nabi Muhammad Saw., dinasti abbasiyah didirikan oleh Abdullah ibn al-Abbas. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang dari tahun 132 H sampai dengan 656 H. selama berkuasa pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, social dan budaya. Dinasti Abbasiyah di samping bercorak Arab murni, juga terpengaruh dengan corak pemikiran dan peradaban Persia, Romawi Timur, Mesir, dan sebagainya. Juga dinasti Abbasiyah ini sistem politiknya lebih bersifat demokratis dari pada dinasti Umayyah yang Orientalis.
Pada masa pemerintahan Khalifah Al-Mahdi (158 – 169 H / 775 – 785
M), dinasti Abbasiyah memperluas kekuasaan dan pengaruh Islam ke wilayah Timur
Asia Tengah, dari perbatasan India hingga ke China. Saat itu umat Islam
berhasil memasuki selat Bosporus, sehingga membuat Ratu Irene menyerah dan
berjanji membayar upeti. Pada masa dinasti ini pula wilayah kekuasaan Islam
sangat luas yang meliputi wilayah yang telah dikuasai Bani Umayyah, antara lain
Hijjaz, Yaman Utara dan Selatan, Oman, Kuwait, Iran (Persia), Irak, Yordania,
Palestina, Libanon, Mesir, Tunisia, Al-Jazair, Maroko, Spanyol, Afghanistan,
dan Pakistan. Juga mengalami perluasan ke daerah Turki, wilayah-wilayah Armenia
dan daerah sekitar Laut Kaspia, yang sekarang termasuk wilayah Rusia. Wilayah
bagian Barat India dan Asia Tengah, serta wilayah perbatasan China sebelah
Barat.
Perkembangan kebudayaan serta ilmu pengetahuan dan Ilmuwan yang
berpengaruh pada masa Dinasti Bani Abbasiyah
Dinasti Abbasiyah merupakan salah satu dinasti Islam yang
sangat peduli dalam upaya pengembangan ilmu pengetahuan. Upaya ini mendapat
tanggapan yang sangat baik dari para ilmuwan. Sebab pemerintahan dinasti
abbasiyahtelah menyiapkan segalanya untuk kepentingan tersebut. Diantara
fasilitas yang diberikan adalah pembangunan pusat-pusat riset dan terjemah
seperti baitul hikmah, majelis munadzarah dan pusat-pusat study lainnya.
Kemajuan-Kemajuan dan Perkembangan yang Dicapai
Secara garis besar ada 2 faktor penyebab tumbuh dan berkembangnya
peradaban Islam, yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal
berasal dari dalam ajaran Islam bahwa ajaran Islam yang bersumber pada
Al-Qur’an dan Hadits, memiliki kekuatan yang luar biasa yang mampu memberikan
motifasi bagi para pemeluknya untuk mengembangkan peradabannya.
Sedangkan faktor eksternalnya, yaitu ajaran yang merupakan proses
sejarah umat Islam di dalam kehidupannya yang dijiwai oleh nilai-nilai ajaran
Islam. Faktor penyebab tersebut adalah semangat Islam, perkembangan organisasi
ketatanegaraan, perkembangan ilmu pengetahuan, dan perluasan Islam.
Bentuk-Bentuk Peradaban Islam dan Tokoh-Tokohnya
a. Kota-Kota Pusat Peradaban
1) Kota Baghdad, merupakan ibu kota negara kerajaan Abbasiyah yang
didirikan oleh Khalifah Abu Ja’far Al-Mansur (754 – 775 M) pada tahun 762 M.
kota ini terletak di tepian sungai Tigris. Masa keemasan kota Baghdad terjadi
pada masa pemerintahan Khalifah Harun Al-Rasyid (786 – 809 M), dananaknya
Al-Makmun (813 – 833M).
2) Kota Samarra, letaknya di sebelah timur sungai Tigris yang berjarak lebih kurang 60 km dari kota Baghdad. Dikota ini terdapat 17 istana mungil yang menjadi contoh seni bangunan Islam di kota-kota lain.
2) Kota Samarra, letaknya di sebelah timur sungai Tigris yang berjarak lebih kurang 60 km dari kota Baghdad. Dikota ini terdapat 17 istana mungil yang menjadi contoh seni bangunan Islam di kota-kota lain.
b. Bangunan Tempat Pendidikan dan Tempat Peribadatan
1) Madrasah. Ada banyak madrasah, madrasah yang terkenal pada
zaman itu adalah Nizamiyyah, yang didirikan oleh Nizam Al-Mulk, seorang perdana
menteri pada tahun 456 – 486 H. Madrasah ini terdapat di banyak kota, antara
lain di Baghdad, Isfahan, Nisabur, Basrah, Tabaristan, Hara, dan Musol.
2) Kuttab, yaitu sebagai lembaga pendidikan dasar dan menengah.
3) Majlis Muhadharah sebagai tempat pertemuan dan diskusi para
ilmuan.
4) Darul-Hikmah sebagai perpustakaan.
5) Masjid-masjid sebagai tempat beribadah dan sebagai tempat
pendidikan tingkat tinggi dan takahsush. Di antara masjid yang terkenal adalah
masjid Cordova, masjid Ibnu Touloun, masjid Al-Azhar, dan sebagainya.
Bidang-bidang ilmu pengetahuan umum yang berkembang antara lain:
a. Filsafat(Ilmu yang mempelajari tentang
Proses penerjemahan yang dilakukan umat Islam pada masa dinasti
bani abbasiyah mengalami kemajuan cukup besar. Para penerjemah tidak hanya
menerjemahkan ilmu pengetahuan dan peradaban bangsa-bangsa Yunani, Romawi,
Persia, Syiria tetapi juga mencoba mentransfernya ke dalam bentuk pemikiran.
Diantara tokoh yang member andil dalam perkembangan ilmu dan filsafat Islam
adalah: Al-Kindi, Abu Nasr al-Faraby, Ibnu Sina, Ibnu Bajjah, Ibnu Thufail,
al-Ghazali dan Ibnu Rusyd.
b. Ilmu Kalam(ilmu alat:Ilmu yang mempelajari tentang bahasa arab)
Menurut A. Hasimy lahirnya ilmu kalam karena dua factor: pertama,
untuk membela Islam dengan bersenjatakan filsafat. Kedua, karena semua masalah
termasuk masalah agama telah berkisar dari pola rasa kepada pola akal dan ilmu.
Diantara tokoh ilmu kalam yaitu: wasil bin Atha’, Baqilani, Asy’ary, Ghazali,
Sajastani dan lain-lain.
c. Ilmu Kedokteran(Ilmu yang mempelajari tentang
Ilmu kedokteran merupakan salah satu ilmu yang mengalami
perkembangan yang sangat pesat pada masa Bani Abbasiyah pada masa itu telan
didirikan apotek pertama di dunia, dan juga telah didirikan sekolah farmasi.
Tokoh-tokoh Islam yang terkenal dalam dunia kedokteran antara lain Al-Razi dan
Ibnu Sina.
d. Ilmu Kimia
Ilmu kimia juga termasuk salah satu ilmu pengetahuan yang
dikembangkan oleh kaum muslimin. Dalam bidang ini mereka memperkenalkan
eksperimen obyektif. Hal ini merupakan suatu perbaikan yang tegas dari cara
spekulasi yang ragu-ragu dari Yunani. Mereka melakukan pemeriksaan dari
gejala-gejala dan mengumpulkan kenyataan-kenyataan untuk membuat hipotesa dan
untuk mencari kesimpulan-kesimpulan yang benar-benar berdasarkan ilmu
pengetahuan diantara tokoh kimia yaitu: Jabir bin Hayyan.
e. Ilmu Hisab(Ilmu yang mempelajari tentang perhitungan,matematika
dan waktu)
Diantara ilmu yang dikembangkan pada masa pemerintahan abbasiyah
adalah ilmu hisab atau matematika. Ilmu ini berkembang karena
kebutuhan dasar pemerintahan untuk menentukan waktu yang tepat. Dalam setiap
pembangunan semua sudut harus dihitung denga tepat, supaya tidak terdapat
kesalahan dalam pembangunan gedung-gedung dan sebagainya. Tokohnya adalah
Muhammad bin Musa al-Khawarizmi.
f. Sejarah(Ilmu yang mempelajari tentang sejarah pada masa dinasti
abbasiyah)
Pada masa ini sejarah masih terfokus pada tokoh atau peristiwa
tertentu, misalnya sejarah hidup nabi Muhammad. Ilmuwan dalam bidang ini adalah
Muhammad bin Sa’ad, Muhammad bin Ishaq
g. Ilmu Bumi(Ilmu yang mempelajari tentang selukbeluk bumi dan
isinya)
Ahli ilmu bumi pertama adalah Hisyam al-Kalbi, yang terkenal pada
abad ke-9 M, khususnya dalam studynya mengenai bidang kawasan arab.
h. Astronomi(Ilmu yang mempelajari tentang antariksa dan
perbintangan)
Tokoh astronomi Islam pertama adalah Muhammad al-fazani dan
dikenal sebagai pembuat astrolob atau alat yang pergunakan untuk mempelajari
ilmu perbintangan pertama di kalangan muslim. Selain al-Fazani banyak ahli
astronomi yang bermunculan diantaranya adalah muhammad bin Musa al-Khawarizmi
al-Farghani al-Bathiani, al-biruni, Abdurrahman al-Sufi.
Selain ilmu pengetahuan umum dinasti abbasiyah juga memperhatikan
pengembangan ilmu pengetahuan keagamaan antara lain:
a. Ilmu Hadis(Ilmu yang mempelajari tentang Hadist-hadist nabi)
Diantara tokoh yang terkenal di bidang ini adalah imam bukhari,
hasil karyanya yaitu kitab al-Jami’ al-Shahih al-Bukhari. Imam muslim hasil
karyanya yaitukitab al-Jami’ al-shahih al-muslim, ibnu majjah, abu daud,
at-tirmidzi dan al-nasa’i.
b. Ilmu Tafsir(Ilmu yang mempelajari tentang Tafsir Al-Qur an)
Terdapat dua cara yang ditempuh oleh para mufassir(ahli ilmu
tafsir) dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an. Pertama, metode tafsir bil
ma’tsur yaitu metode penafsiran oleh sekelompok mufassir dengan cara member
penafsiran al-Qur’an dengan hadits dan penjelasan para sahabat. Kedua, metode
tafsir bi al-ra’yi yaitu penafsiran al-Qur’an dengan menggunakan akal lebih
banyak dari pada hadits. Diantara tokoh-tokoh mufassir adalah imam al-Thabary,
al-sud’a muqatil bin Sulaiman.
c. Ilmu Fiqih(Ilmu yang mempelajari tentang hukum islam)
Dalam bidang fiqih para fuqaha'(ulama ahli fiqih)
yang ada pada masa bani abbasiyah mampu menyusun kitab-kitab fiqih terkenal
hingga saat ini misalnya, imam Abu Hanifah menyusun kitab musnad al-Imam
al-a’dzam atau fiqih al-akbar, imam malik menyusun kitab al-muwatha’, imam
syafi’I menyusun kitab al-Umm dan fiqih al-akbar fi al tauhid, imam
ibnu hambal menyusun kitab al musnad ahmad bin hambal.
d. Ilmu Tasawuf(Ilmu yang mempelajari tentang hikmah :tasawuf)
Kecenderungan pemikiran yang bersifat filosofi menimbulkan gejolak
pemikiran diantara umat islam, sehingga banyak diantara para pemikir muslim
mencoba mencari bentuk gerakan lain seperti tasawuf. Tokoh sufi yang terkenal
yaitu Imam al-Ghazali diantara karyanya dalam ilmu tasawuf adalah ihya ulum
al-din.dan sebagainya,,
Mengidentifikasi tokoh ilmuwan muslim dan peranannya dalam
kemajuan kebudayaan/peradaban islam pada masa dinasti abbasiyah
1. Ibnu Sina (Aviciena)
Nama lengkap Ibnu Sina adalah Abu Ali Husain Ibn Abdillah Ibn
Sina. Ia lahir pada tahun 980 M di Asfshana, suatu tempat dekat Bukhara. Orang tuanya adalah Gubernur
pada pemerintahan Dinasti Saman.Di Bukhara ia dibesarkan serta belajar falsafah
kedokteran dan ilmu – ilmu agama Islam. Ketika usia sepuluh tahun ia telah
banyak mempelajari ilmu agama Islam dan menghafal Al-Qur’an seluruhnya. Dari
mutafalsir Abu Abdellah Natili, Ibnu Sina mendapat bimbingan mengenai ilmu
logika yang elementer untuk mempelajari buku Isagoge dan Porphyry, Euclid dan
Al-Magest-Ptolemus. Dan sesudah gurunya pindah ia mendalami ilmu agama dan
metafisika, terutama dari ajaran Plato dan Arsitoteles yang murni dengan
bantuan komentator – komentator dari pengarang yang otoriter dari Yunani yang
sudah diterjemahkan kedalam bahasa Arab. Dengan ketajaman otaknya ia banyak
mempelajari filsafat dan cabang – cabangnya, kesungguhan yang cukup mengagumkan
ini menunjukkan bahwa ketinggian otodidaknya, namun di suatu kali dia harus
terpaku menunggu saat ia menyelami ilmu metafisika-nya Arisstoteles, kendati
sudah 40 an kali membacanya. Baru setelah ia membaca Agradhu kitab ma waraet
thabie’ah li li Aristho-nya Al-Farabi (870 – 950 M), semua persoalan mendapat
jawaban dan penjelasan yang terang benderang, bagaikan dia mendapat kunci bagi
segala simpanan ilmu metafisika. Maka dengan tulus ikhlas dia mengakui bahwa
dia menjadi murid yang setia dari Al-Farabi Sesudah itu ia mempelajari ilmu
kedokteran pada Isa bin Yahya, seorang Masehi. Belum lagi usianya melebihi enam
belas tahun, kemahirannya dalam ilmu kedokteran sudah dikenal orang, bahkan
banyak orang yang berdatangan untuk berguru kepadanya. Ia tidak cukup dengan
teori – teori kedokteran, tetapi juga melakukan praktek dan mengobati orang –
orang sakit.Ia tidak pernah bosan atau gelisah dalam membaca buku – buku
filsafat dan setiap kali menghadapi kesulitan, maka ia memohon kepada Tuhan
untuk diberinya petunjuk, dan ternyata permohonannya itu tidak pernah
dikecewakan. Sering – sering ia tertidur karena kepayahan membaca, maka didalam
tidurnya itu dilihatnya pemecahan terhadap kesulitan – kesulitan yang
dihadapinya. Sewaktu berumur 17 tahun ia telah dikenal sebagai dokter dan atas
panggilan Istana pernah mengobati pangeran Nuh Ibn Mansur sehingga pulih kembali
kesehatannya. Kemampuan Ibnu Sina dalam bidang filsafat dan kedokteran, kedua
duanya sama beratnya. Dalam bidang kedokteran dia mempersembahkan Al-Qanun
fit-Thibb-nya, dimana ilmu kedokteran modern mendapat pelajaran, sebab kitab
ini selain lengkap, disusunnya secara sistematis. Ibnu Sina pula sebagai orang
pertama yang menemukan peredaran darah manusia, dimana enam ratus tahun
kemudian disempurnakan oleh William Harvey. Dia pulalah yang pertama kali
mengatakan bahwa bayi selama masih dalam kandungan mengambil makanannya lewat
tali pusarnya. Dia jugalah yang mula – mula mempraktekkan pembedahan penyakit –
penyakit bengkak yang ganas, dan menjahitnya. Dibidang filsafat, Ibnu Sina
dianggap sebagai imam para filosof di masanya, bahkan sebelum dan sesudahnya.
Kebanyakan buku – bukunya telah disalin kedalam bahasa Latin. Dalam dunia Islam
kitab – kitab Ibnu Sina terkenal, bukan saja karena kepadatan ilmunya, akan
tetapi karena bahasanya yang baik dan caranya menulis sangat terang. Selain
menulis dalam bahasa Arab, Ibnu Sina juga menulis dalam bahasa Persia. Karya –
karya Ibnu Sina yang ternama dalam lapangan Filsafat adalah As-Shifa, An-Najat
dan Al Isyarat. Sekalipun ia hidup dalam waktu penuh kegoncangan dan sering
sibuk dengan soal negara, ia menulis sekitar dua ratus lima puluh karya.
Diantaranya karya yang paling masyhur adalah “Qanun” yang merupakan ikhtisar
pengobatan Islam dan diajarkan hingga kini di Timur. Buku ini di terjemahkan ke
bahasa Latin dan diajarkan berabad lamanya di Universita Barat. Karya keduanya
adalah ensiklopedinya yang monumental “Kitab As-Syifa”. Karya ini merupakan
titik puncak filsafat paripatetik dalam Islam. Ibnu Sina dikenal di
Barat dengan nama Avicena (Spanyol aven Sina) dan kemasyhurannya di
dunia Barat sebagai dokter melampaui kemasyhuran sebagai Filosof,
sehingga dia di beri gelar “the Prince of the Physicians“. Di dunia
Islam ia dikenal dengan nama Al-Syaikh- al-Rais. Pemimpin utama (dari filosof –
filosof). Didalam al-Muniqdz min al-Dhalal, al-Ghazali bahwa Ibnu Sina pernah
berjanji kepada Allah dalam salah satu wasiatnya, antara lain bahwa ia akan
menghormati syari’at tidak melalaikan ibadah ruhani maupun jasmani dan tidak
akan minum – minuman keras untuk memuaskan nafsu, melainkan demi kesehatan dan
obat. Kehidupan Ibnu Sina penuh dengan aktifitas -aktifitas kerja keras.
Waktunya dihabiskan untuk urusan negara dan menulis, sehingga ia mempunyai
sakit maag yang tidak dapat terobati. Di usia 58 tahun (428 H / 1037 M)
Ibnu Sina meninggal dan dikuburkan di Hamazan.
2. Ibnu Rusydi
Ibnu Rusydi adalah seoarang filsuf cemerlang, ahli ilmu
al-qur’an serta ahli kealaman seperti fisika, kedokteran, biologi, dan
astronomi. Ia dikenal di barat dengan nama Averroes, yang memiliki nama
lengkapAbu al-Walid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin rusydi. Ibnu Rusydi
lahir di Kordoba, Spanyol, pada tahun 520 H/1126 M dan meninggal di Maroko pada
bulan safar tahun 595 H/10 Desember 1198 M, dan jenazahnya dibawa ke kordoba
untuk dimakamkan. Ayahnya merupakan seorang qadli (hakim agama islam)
Pada tahun 548 H/1153 M ia berada di Maroko mengemban tugas dari
Almohad Abdul Mu’min untuk melakukan observasi-observasi astronomi, dan pada
saat itu lah ia menulis komentar tentang metafisika, dan menyatakan tentang
riset-riset yang mesti dilakukan terhadap gerakan planet-planet. Dan pada tahun
578 H/1182 M, di Maroko ia menggantikan kedudukan Ibnu Thufail sebagai kepala
tabib (dokter istana).
Sumbangan Ibnu Rusydi pada bidang filsafat, kedokteran, dan
teologi sangatlah banyak dan hanya dapat disejajarkan dengan sumbangan
Al-Farabi dan Ibnu Sina. Mesikipun begitu, Ibnu Rusydi lebih unggul dalam tiga
masalah fundamental, yakni kemahirannya menguraikan dan menafsirkan pemikiran
aristosteles, konstribusinya terhadap bidang jurisprudensi (Fiqih). Ibnu Rusydi
dikenal sebagai perintis Ilmu Kedokteran Umum dan perintis mengenai Ilmu
jaringan tubuh (Histologi), ia pun berjasa dalam penelitian pembuluh-pembuluh
darah dan penyakit cacar.
Ia telah menulis beberapa karya dan komentar-komentar ringkas
tentang “organon”, “Physics” dan “Metaphysics”, yang sama baiknya dengan karya
besarnya di bidang medis Al-Kulliyat fi ath-Thibb (Aturan-aturan Umum Ilmu
Kedokteran) yang terdiri atas 16 Jilid. Ia juga meminta kepada sahabatnya, Abu
Marwan Ibnu Zuhr, untuk bekerja sama menulis sebuah buku tentang
“particularities” (Al-Umur al-Juz’iyyah), sehingga menurut Abu Ushaybi’ah,
karya bersama mereka menjadi sebuah karya lengkap tentang seni pengobatan. Di
samping keahliannya dalam bidang-bidang tersebut Ibnu Rusydi juga dikenal pula
sebagai pengkritik Ibnu Sina yang paling tajam, meskipun ia tetap respek
terhadap karya-karyanya tentang kesehatan (medis).
Selain terkenal sebagai seorang dokter, ia juga dikenal sebagai
seorang ahli matematika, hukum islam, dan juga filsuf yang brilian. Ia juga seorang
ahli berdebt dalam tulisan (polemik) yang tajam. Karya-karyanya dalam bahasa
arab kira-kira ada 78 buah, yang masih tersimpan dan terawat baik di
perpustakaan Escurialdi Madrid, Spanyol.
3. Abu Ali Hasan Ibnu Haytam (Al Hazen)
Nama lengkapnya Abu Ali Al-hasan bin AL-Haytam AL-Basri
al-Misri, juga dikenal denga nama latin al-Hazen, Avennethar. Ia lahir di Basra
sekitar tahun 354 H/965 M. Ibnu al-Haytam adalah seorang ahli matematika ulung
serta ahli fisika terbaik yang paling disegani sejak abad ke 11 M. Di masa
hidupnya ia juga tercatat sebagai ahli fisika pertama dari kalangan Islam.
Pada tahun-tahun akhir hidupnya ia pindah ke mesir dan bekerja
di bawah pemerintahan khalifah Fathimiyah, al-Hakim (966-1020M). ia di percaya
mencari metode untuk memantau banjir tahunan sungai Nil, tetapi ia gagal
mengemban misi ini karena misi terlalu berat di bebankan ke pundak al-Haytam.
Bahkan menurut sebuah sumber, karena kegagalannya tersebut, al-Haytam
seakan-akan menghilang.
Dalam Uyumul Ariba fi Thabaqat al Attiba,disebutkan
karya-karyanya mencapai 200 judul karya Ilmiah. Tulisannya meliputi bidang
Optik, matematika, farmakologi, fisika dan filsafat. Karya-karyanya antara lain
sbb : Maqalah fi istikharaj Samt al-Qiblat (teorema kontangen), Maqalah fi
Hayat al-Alam, Kitab fi al-Manasit (Kamus Optika), Fi al-Maraya al-Muhriqah bi
ad-Dawa’ir (Bibiliotheca Mathematica), Maqabah fi Daw al-Kamar (The Celestino
Movement), Fi al-Marava al-Muhriqah bi al-Kuru (Cermin-cermin Parabolik).
4. Al-Fargani (Al Faraganus)
Al-Fargani adalah Salah seorang tokoh astronomi yang berasal
dari Farghana, Transoxania, sebuah kota yang terletak di tepi sungai Sardaria,
Uzbekistan. Ia hidup zaman Dinasti Bani Abbasiyah semasa kekhalifahan
AL-makmun, sampai kematian al-Mutawakkil (847-881 M). Al Fargani di dunia Barat
dikenal dengan nama Alfraganus. Dia telah mempelajari warisan astronomi yang
diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, kemudian menulis sebuah karya tentang
astronomi. Karya al Fargani berisikan ringkasan tentang astronomi. Buku ini menjadi
buku rujukan dalam mempelajari astronomi. Oleh Gerard Cremona dan Johannes
Hispalensis, karya al Fargani kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin.
Dari bahasa Latin kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.
Al Fargani yang hidup pada masa Khalifah al Makmun, juga menulis sebuah karya dalam bidang astronomi yang kemudian diterjemahkan oleh orang-orang Barat dengan nama Elemen Astronomi. Buku ini sangat terkenal di kalangan orang-orang Barat.
Al Fargani yang hidup pada masa Khalifah al Makmun, juga menulis sebuah karya dalam bidang astronomi yang kemudian diterjemahkan oleh orang-orang Barat dengan nama Elemen Astronomi. Buku ini sangat terkenal di kalangan orang-orang Barat.
Pada tahun 247 H/861 M pernah di utus oleh al-Mutawakkil ke
Fustas (Kairo) untuk mengawasi dan mengatur pembangunan sebuah Nikometer.
Ketika kekhalifahan pernah membangun observatory Astronomi di Baghdad pada
tahun 829 M, al-Farghani memulai observasinya di sana. Melalui observasi yang
terus-menerus dilakukannya, ia berhasil membuat jadwal Apogee (Apogeum) dan
Perigee masing-masing planet dengan system koresponden Episikel ke dalam
eksentrisitas-eksentrisitas dan elips-elips yang terdapat dalam astronomi
modern.
5. Ibnu Al-baitar
Nama lengkapnya adalah Abu Muhammad Abdullah Ibn Ahmad Ibn
Al-Baitar Dhiya Al-Din Al-Malaqi. Ia dikenal sebagai ahli Botani (Tertumbuhan)
dan Farmasi (Obat-obatan) pada abad pertengahan. Dia dilahirkan pada akhir abad
ke-12 di kota Malaga (Spanyol). Ibnu al-Baitar menghabiskan masa kecilnya di
tanah Andalusia tersebut.
Sumbangsih utama al-Baitar adalah Kitab al-Jami fi al-adwiya
al-Mufrada. Buku ini sangat popular dan merupakan kitab paling terkemuka
mengenai tumbuh-tumbuhan dan kaitannya dengan ilmu pengobatan arab. Kitab ini
menjadi rujukan para ahli tumbuhan dan obat-obatan hingga abad ke-16.
6. Abdul Al-Hasan Ali Al Mas’ud.
Abul Hasan Ali Al-Masu’di merupakan salah seorang pakar sains Islam yang meninggal
di Postat pada tahun 956 M. Dilahirkan di Baghdad,Irak sekitar akhir abad ke-9. dia juga
merupakan seorang ahli sejarah, geografi, ahli geologi, ahli zoology muslim,
dan falsafah, ia juga mempelajari ilmu Kalam (teologi), akhlak, politik, dan
ilmu bahasa. Singkatnya, ia adalah seorang ensiklopedi dalam sains islam. Dia
pernah mengembara ke Sepanyol, Rusia, India, Sri Lanka dan China serta
menghabiskan umurnya di Syiria dan Mesir. Dia berasal dari keturunan sahabat
Nabi Muhammad, Abdullah
bin Mas’ud.
Bukunya Muruj adh-Dhahab wa Ma’adin
al-Jawahir (Padang Emas dan Lombong Manikam) yang ditulis pada
943, merupakan himpunan kisah perjalanan dan pembelajarannya. Ia menyentuh
aspek sosial dan kesusasteraan sejarah, perbincangan mengenai agama dan
penerangan geografi. Dia juga menulis buku Al-Tanbih wa al-Ashraf,
yang merupakan buku terakhirnya.
7. Muhammad Ibnu Musa Al-Khawarizmi
Muḥammad bin Mūsā al-Khawārizmī bernma lengkap Abu Abdullah Ibn
Musa Al-Khawarizmi adalah seorang ahli matematika, astronomi, astrologi, dan geografi yang berasal dari Persia. Lahir sekitar tahun 780 di
Khwārizm (sekarang Khiva, Uzbekistan) dan
wafat sekitar tahun 850 di Baghdad. Dalam usia mudanya selama khalifah
Al-Makmun, ia bekerja di bayt al-hikmah (Rumah kearifan) di Baghdad. Di sana ia
bekerja di sebuah observatorium tempat ia menekuni studi matematika dan
astronomi. Di sana juga ia di percaya untuk memimpin perpustakaan sang
khalifah.
Buku pertamanya, al-Jabar,
adalah buku pertama yang membahas solusi sistematik dari linear dan notasi
kuadrat. Sehingga ia disebut sebagai Bapak Aljabar. Translasi bahasa Latin dari Aritmatika beliau, yang memperkenalkan angka India, kemudian diperkenalkan sebagai Sistem Penomoran Posisi Desimal di dunia Barat pada abad ke 12. Ia merevisi dan menyesuaikan Geografi Ptolemeus sebaik mengerjakan tulisan-tulisan tentang astronomi dan astrologi.
kuadrat. Sehingga ia disebut sebagai Bapak Aljabar. Translasi bahasa Latin dari Aritmatika beliau, yang memperkenalkan angka India, kemudian diperkenalkan sebagai Sistem Penomoran Posisi Desimal di dunia Barat pada abad ke 12. Ia merevisi dan menyesuaikan Geografi Ptolemeus sebaik mengerjakan tulisan-tulisan tentang astronomi dan astrologi.
Kontribusi beliau tak hanya berdampak besar pada matematika,
tapi juga dalam kebahasaan. Kata Aljabar berasal dari kata al-Jabr, satu dari dua operasi dalam matematika untuk
menyelesaikan notasi kuadrat, yang tercantum dalam buku beliau. Kata logarisme
dan logaritma diambil dari kata Algorismi, Latinisasi dari nama beliau. Nama beliau
juga di serap dalam bahasa Spanyol
Guarismo dan dalam bahasa Portugis, Algarismo yang berarti digit.
Guarismo dan dalam bahasa Portugis, Algarismo yang berarti digit.
Karya terbesar beliau dalam matematika, astronomi, astrologi, geografi, kartografi, sebagai fondasi dan kemudian lebih inovatif
dalam aljabar, trigonometri, dan pada bidang lain yang beliau tekuni.
Pendekatan logika dan sistematis beliau dalam penyelesaian lineardan notasi
kuadrat memberikan keakuratan dalam disiplin aljabar, nama yang diambil dari
nama salah satu buku beliau pada tahun 830 M, al-Kitab al-mukhtasar fi hisab
al-jabr wa’l-muqabala atau: “Buku Rangkuman untuk Kalkulasi
dengan Melengkapakan dan Menyeimbangkan“, buku pertama beliau yang
kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada abad ke-12.
Pada buku beliau, Kalkulasi dengan angka Hindu,
yang ditulis tahun 825, memprinsipkan kemampuan difusi angka India ke dalam
perangkaan timur tengah dan kemudian Eropa.
Buku beliau diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, Algoritmi de numero Indorum, menunjukkan kata algoritmi
menjadi bahasa Latin.
Sistemasi dan koreksi beliau terhadap data Ptolemeus pada geografi adalah sebuah penghargaan
untuk Afrika dan Timur
–Tengah. Buku besar beliau yang lain, Kitab surat al-ard (“Pemandangan Bumi“;diterjemahkan oleh Geography), yang
memperlihatkan koordinat dan lokasi dasar yang diketahui dunia, dengan berani
mengevaluasi nilai panjang dari Laut
Mediterania dan lokasi kota-kota di Asia dan Afrika yang sebelumnya diberikan oleh Ptolemeus. Ia kemudian mengepalai konstruksi peta dunia untuk Khalifah Al-Ma’mun dan berpartisipasi dalam proyek menentukan tata letak di Bumi, bersama dengan 70 ahli geografi lain untuk membuat peta yang kemudian disebut “ketahuilah dunia”. Ketika hasil kerjanya disalin dan ditransfer ke Eropa dan Bahasa Latin, menimbulkan dampak yang hebat pada kemajuan matematika dasar di Eropa. Ia juga menulis tentang astrolab dan sundial.
Mediterania dan lokasi kota-kota di Asia dan Afrika yang sebelumnya diberikan oleh Ptolemeus. Ia kemudian mengepalai konstruksi peta dunia untuk Khalifah Al-Ma’mun dan berpartisipasi dalam proyek menentukan tata letak di Bumi, bersama dengan 70 ahli geografi lain untuk membuat peta yang kemudian disebut “ketahuilah dunia”. Ketika hasil kerjanya disalin dan ditransfer ke Eropa dan Bahasa Latin, menimbulkan dampak yang hebat pada kemajuan matematika dasar di Eropa. Ia juga menulis tentang astrolab dan sundial.
KERUNTUHAN DINASTI ABBASIYAH
1. Proses Keruntuhan Dinasti Abbasiyah
Adapun terlihat gejala runtuhnya dinasti abbasiyah yakni ketika
masa kekhalifahaan Al-Mutawakkil (847-861 M), karena merupakan khalifah yang
lemah dalam hal kepemimpinan apabila di bandingkan dengan al-Watsiq. Khalifah
yang baru ini mulai menyingkirkan orang-orang keturunan Turki, tetapi tidak
terlaksanakan dengan sempurna karena keturunan Turki ini telah bangkit
memberontak menentangnya, bersama-sama dengan anaknnya Al-Mansur dan berhasil
membunuhnya. Sejak inilah mulai terlihat gejala runtuhnya dinasti abbasiyah.
2. Runtuhnya Dinasti Abbasiyah
Salah satu khalifah abbasiyah yang lemah kepemimpinannya adalah
Al-Mutawakkil yang memerinta847-861 M. setelah al-Mutawakkil wafat karena di bunuh
oleh orang-orang Turki, maka orang-orang Turki dapat merebut kekuasaannya
dengan cepat. Merekalah yang memilih dan mengangkat khalifah sesuai dengan
kehendak mereka, kekuasaan tidak lagi di tangan bani abbas, meskipun mereka
tetap memegang jabatan khalifah. Masa tersebut adalah zaman kelemahan dan
kemunduran bagi khalifah-khalifah bani abbas.
Setelah itu tenara turki lemah dengan sendirinya, di daerah-daerah
muncul tokoh-tokoh kuat yang kemudian memerdekakan diri dari kekuasaan pusat,
mendirikan dinasti-dinasti kecil.
Yang
berbangsa Persia:
Yang
berbangsa Turki:
a. Seljuk
besar, atau Seljuk
Agung, didirikan oleh Rukn al-Din Abu Thalib Tuqhril Bek ibn Mikail ibn Seljuk
ibn Tuqaq. Seljuk ini menguasai Baghdad dan memerintah selama
sekitar 93tahun (429-522H/1037-1127 M). Dan Sulthan Alib
Arselan
Rahimahullah memenangkan Perang Salib ke I atas kaisar Romanus IV dan berhasil menawannya.
Rahimahullah memenangkan Perang Salib ke I atas kaisar Romanus IV dan berhasil menawannya.
b. Seljuk
Kinnan di Kirman, (433-583
H/1040-1187 M).
c. Seljuk
Syria atau Syam di Syria,
(487-511 H/1094-1117 M).
d. Seljuk
Irak di Irak dan Kurdistan, (511-590 H/1117-1194 M).
e. Seljuk Ruum atau Asia
kecil di Asia tengah(Jazirah
Anatolia), (470-700 H/1077-1299 M).
Yang
berbangsa Kurdi:
al-Ayyubiyyah, (564-648 H/1167-1250 M),
didirikan oleh Sulthan Shalahuddin
al-ayyubisetelah keberhasilannya memenangkan Perang Salib periode ke
III.
Yang
berbangsa Arab:
Yang
mengaku dirinya sebagai khilafah:
Faktor Internal Kemunduran Dinasti Abbasiyah diantaranya :
Luasnya
wilayah kekuasaan daulah Abbasiyyah sementara komunikasi pusat dengan daerah
sulit dilakukan. Bersamaan dengan itu, tingkat saling percaya di kalangan para
penguasa dan pelaksana pemerintahan sangat rendah.
Dengan
profesionalisasi angkatan bersenjata, ketergantungan khalifah kepada mereka sangat tinggi.
Mayoritas
Khalifah periode akhir lebih mementingkan urusan pribadi dan melalaikan urusan
dan tugas Negara, mereka lebih suka berpoya-poya dan bermewah-mewahan.
Merajalelanya
Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) di kalangan pejabat kerajaan.
Faktor Eksternal Kemunduran Dinasti Abbasiyah
Serangan
tentara Mongol ke wilayah kekuasaan Islam yang di
pimpin oleh panglima Khulagu Khan. Dengan pembunuhan yang kejam ini berakhirlah
kekuasaan Abbasiyah di Baghdad. Kota Baghdad sendiri dihancurkan rata dengan
tanah, sebagaimana kota-kota lain yang dilalui tentara Mongol tersebut.
Walaupun sudah dihancurkan, Hulagu Khan memantapkan kekuasaannya di Baghdad
selama dua tahun, sebelum melanjutkan gerakan ke Syria dan Mesir.
Jatuhnya kota Baghdad pada tahun 1258 M ke tangan bangsa Mongol bukan saja mengakhiri kekuasaan khilafah Bani
Abbasiyah di sana, tetapi juga merupakan awal dari masa kemunduran politik dan
peradaban Islam, karena Bagdad sebagai pusat kebudayaan dan peradaban Islam
yang sangat kaya dengan khazanah ilmu pengetahuan itu ikut pula lenyap
dibumihanguskan oleh pasukan Mongol yang dipimpin Hulaghu Khan tersebut.
MENGAMBIL
IBRAH DARI PERKEMBANGAN KEBUDAYAAN/PERADABAN ISLAM PADA MASA DINASTI ABBASIYAH
UNTUK MASA KINI DAN YANG AKAN DATANG
Mengamati
sejarah umat Islam masa lalu yang tidak mrnguntungkan, sudah saatnya kita
segera menyikapi dan menentukakn sikap untuk mempersiapkan generasi masa depan
yang lebih baik. Kalau tidak segera diambil langkah-langkah konkret sistematik
dan istikomah, maka besar kemungkinan generasi depan akan lebih parah tragisnya
apabila mereka kehilangan peradaban Islam, baik secara fisik maupun maknanya.
Adapun
Ibrah yang dapat kita ambil dari peradaban Dinasti Abbasiyah adalah sbb :
Menyaring
pengaruh peradaban/kebudayaan dari luar.
Memadukan
peradaban/kebudayaan dari luar dengan kebudayaan yang kita miliki, tanpa
merusak salah satu budaya.
Mengembangkan
kesadaran diri baik individu, masyarakat, umat, maupun manusia secara
universal.
Mempersatukan
manusia
Menumbuhkan
semangat kerja
Menciptakan
solidaritas yang dinamis, dan
Bekerja
keras dan terus menuntut Ilmu gunan kemajuan Nusa, Bangsa dan Agama.
MENELADANI
KETEKUNAN DAN KEGIGIHAN BANI ABBASIYAH
Hal
yang tidak ternilai harganya yang dapat diambil dari sejarah perkembangan islam
pada masa bani abbasiyah, antara lain sebagai berikut :
Harus
menjadi contoh bagi umat islam guna dijadikan cermin untuk meraih kemajuan
islam pada masa yang akan dating
Member
motivasi kepada kaum muslimin pada masa lampau umat islam pernah merebut
keunggulan dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, yang sekarang harus di rebut
kembali.
Menyadarkan
umat islam dari ketertinggalannya dan mencari penyebab kehilangan mutiara yang
hilang itu (kemajuan ilmu pengetahuan)
Menggugah
kepada generasi muda islam untuk terus belajar tanpa mengenal lelah agar bangsa
Indonesia bias sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang sudah maju, bahkan bias
Perjanjian Hudaibiyah
- 1. Perjanjian
hudaibiyah dan kemenangan diplomasi nabi
Selama enam tahun sejak umat islam
meninggalkan mekkah , maka selama waktu itu mereka tidak mempunyai kesempatan
menunaikan ibadah haji . selain itu, mereka juga sudah lama tidak dapat kembali
ke tanah kelahiran mereka di mekkah . namun setelah meraih kemenangan dalam
perang khandaq, keinginan umat islam untuk mengunjungi tanah kelahiran mereka
semakin kuat. Nabi muhammad saw menyadari keinginan para sahabatnya, lalu
beliau memutuskan untuk berkunjung ke mekkah.
Pada tahun ke-6 h atau 628m , umat islam
besama nabi Muhammad saw berangkat menuju mekkah untuk menunaikan ibadah haji.
Pada saat itu adalah bulan dzul qa’da h. dalam tradisi masyarakat araba, bulan
tersebut diharamkan untuk melakukan peperangan. Namun tampaknya para pemuka
quraisy tidak menhendaki kedatanagan umat islam sekalipun untuk kepentingan
menjalankan ibadah haji
Ketika para pemuka kafir quraisy mengetahui
keberangkatan rombongan umat islam menuju mekkah, mereka berusaha menghadang
iring-iringan umat islam. Ketika umat islam sampai disebuah tempat ber4nama
hudaibiyyah sekitar 6 mil dari kota mekkaah, mereka berhenti. Nabi saw utus
usman bin affan sebagai wakil untuk menyampaikan keepada kafir quraisy maksud
dan tujuan kedatangan kaum muslim yang sebenarnya. Meskipun demikian, para
pemuka kafir quraisy tetap pada pendirian mereka, bahwa mereka tidak
mengizinkan umat islam memasuki kota mekkah . mereka menegaskan bahwa tahun ini
nabi Muhammad dan sahabatnya harus kembali ke madinah . ada kemungkinan tahun
depan umat islam baru diperbolehkan memasuki kota mekkah untuk berhaji, namun
hanya tiga hari saja.
Sementara itu, tersebar isu bahwa usman bin
affan tusan nabi saw dibunuh kaum quraisy. Berita ini menimbulkan cemas dan
kemarahan umat islam hadap nabi Muhammad saw umat islam menyatakan ikrar atau
bersumpah yang dinamakan bai’atu ridwan. Mereka menyatakan tekadnya untuk
berjuang demi kejayaan islam hingga tetes darah penghabisan telah para sahabat
menyatakan sumpah tersebut, usman bin affan datang dari mekkah ddengan selamat.
Para pemuka quraisy sangat mencemaskan
kesungguhan hati umat islam untuk berjuang dan memasuki kota mekkah tahun itu
juga . karena itu, mereka kemudian menyetujui untuk diselenggarakan perjanjian
yang dikenal sebagai perjanjian hudaibiyah antara pemuka quraisy dengan nabi
Muhammad saw . perundingan menghasilkan beberapa kesepakatan, antara lain :
- Kedua belah pihak sepakat
mengadakan gencatan senjata selama 10 tahun.
- Setiap orang diberi kebebasan
bergabung dengan nabi Muhammad atau menjalin janjian dengan Muhammad dan
demikian juga setiap orang diberi kebebasan bergabung dengan kelompok
quraisy atau menjalin perjanjian dengan mereka.
- Siapa yang pergi bergabung
dengan Muhammad tanpa alasan yang dapat dibenarkan, harus dicegah dan
dikembalikan kepada walinya, tetapi jika pengikut nabi Muhammad hendak
bergabung dengan kelompok quraisy , maka ia harap dibenarkan.
- Pada tahun ini rombongan
Muhammad harus kembali ke madinah . pada tahun berikutnya mereka diizinkan
menjalankan ibadah haji dengan syarat bahwa di mekkah tidak lebih dari
tiga hari tanpa membawa senjata.
Isi perjanjian hudaibiyah tersebut menunjukkan
kepada kita betapa islam agama yang besar dan sekaligus menunjukkan kearifan
sikap nabi Muhammad saw. Sungguh pun isi perjanjian itu tampak sekali merugikan
umat islam, namun denagn perjanjian ini membuka banyak peluang strategi
perjuangan nabi Muhammad saw. Peluang tersebut antara lain:
- Bahwa perjanjian tersebut
secara tidak langsung mengakui status politik nabi Muhammad saw
sebagai pucuk pimpinan umat islam dan pimpinan negeri madinah.
- Bahwa gencatan senjata selama
sepuluh tahun merupakan kesempatan yang baik untuk menyebarluaskan agama
islam karena nabi saw dan para sahabatnya tidak disibukkan dengan urusan
peperangan.
- Bahwa kebesaran islam yang
ditampilkan melalui kearifan sikap nabi Muhammad saw dalam perjanjian ini,
secara tidak langsung telah menarik simpati orang-orang quraisy . sehingga
sejumlah mereka kemudian masuk islam tidak lama setelah perjanjian ini,
missalnya Khalid bin walid amr bin al-ash.
Setelah perjanjian berlangsung, situasi
menjadi aman, tidak ada peperangan. Dalam situasi aman seperti ini, nabi
Muhammad saw. Mengirimkan para dutanya ke Negara-negara tetangga untuk
menyerukan kepada mereka tentang ajaran islam. Beberapa penguasa menerima
ajakan tersebut, kecuali raja Persia yang mengusir duta islam , bahkan duta
islam yang diutus kepada penguasa Kristen di damaskus dibunuh dengan kejam.
- 2. Fathul
makkah dan dampaknya bagi pengembangan islam
Dalam pasal-pasal perjanjian hudaibiyah, ada
salah satu pasal yang berisi sebagai berikut : “barang siapa yang datang kepada
Muhammad dari golongan quraisy dengan tidak seizing walinya, ia (Muhammad)
berkewajiban mengembalikannya kepada mereka, dan barang siapa yang datang
kepada orang quraisy dari golongan pengikut Muhammad tidaklah mereka (quraisy)
berkewajiban mengembalikannya kepadanya.”
Pada pasal ini pada lahirnya-dipandang oleh
sebagian besar para sahabat nabi Muhammad waktu itu amat merugikan bagi islam
dan kaum muslimin, tetapi sesudah pasal itu dipraktikkan oleh kedua belah pihak
, ternyata pasal ini merugikan kaum quraisy.
Karena salah satu dari pasal-pasal dalam
perjanjian hudaibiyah yang berisi larangan bagi kaum muslimin mekkah melarikan
diri ke madinah itu sudah dihapuskan atas permintaan pihak quraisy sendiri, abu
jandal dan kawan-kawannya yang tinggal didusun al-ish dapat pindah ke madinah .
dengan demikian, sejak itu daerah tersebut dengan aman dan tentram.
Peristiwa tersebut merupakan kemenangan
polotik nabi saw dan juga menunjukkan keuntungan besar bagi umat muslim karena
pihak kaum quraisy mau tidak mau mengakui kedaulatan islam di madinah yang
berada dibawah kekuasaan nabi saw. Selama kaum quraisy melaksanakan pasal-pasal
yang tersebut , mereka tidak berani lagi menolak dan menggangu secara
terang-terangan terhadap penyiaran islam yang digerakan oleh nabi saw. Mereka
menyadari bahwa perjanjian hudaibiyah itu tidak membawa untung sedikitpu bagi
mereka, bahkan merugikan . oleh karena itu sesudah peperangan di mut’ah, mereka
berusaha dengan sembunyi-sembunyi hendak memukul dan menyerah kaum muslimin .
akhirnya kaum quraisy melanggar perjanjian hudaibiyah.
Ketika waktu yang ditunggu-tunggu tiba,
nabi Muhammad mengirim utusan kepada pemuka quraisy dengan membawa misi
perdamaian, dengan mengajukan sejumlah usulan . usulan tersebut antara lain :
- Orang quraisy mengganti rugi
terhadap korban suku khuza’ah atau
- Orang quraisy mekkah harus
menghentikan persekutuan mereka dengan
bani bakar,
- Orang quraisy harus menyatakan
pembatalan terhadap perjanjian
hudaibiyah.
Dari ketiga usulan yang disampaikan nabi
Muhammad saw ternyata kafir quraisy lebih memilih alternative ketiga, yaitu
menyetujui pembatalan perjanjian hudaibiyah yang telah disepakati bersama.
Kenyataan ini menunjukkan bahwa tidak ada pilihan bagi nabi saw kecuali
mempersiapkan pasukannya untuk melawan pasukan kafir quraisy . untuk itu, nabi
saw mengumpulkan pasukan terbesar sepanjang sejarah nabi untuk melakukan
penyerangan ke kota mekkah . ketika melihat keseriusan nabi dan pasukannya
untuk menyerang kota mekkah , timbul penyesalan di hati abu sofyan karena ia
telah menolak perdamaian dengan nabi saw. Dan menyepakati perjanjian
hudaibiyah.
Dalam waktu singkat , nabi Muhammad berhasil
mengerahkan 10.000 pasukan tempur bergerak menuju mekkah . selama melakukan
persiapan, nabi Muhammad saw mencoba merahasiakan kesiapan tersebut, namun
berita tersebut tersebar dikalangan quraisy. Berita itu tersebar ketika hatib
bi alia bi baltha’ah mengirim surat kepada keluarganya melalui seoirang budak
bani muthalib bernama sarah. Surat itu berisi tentang poersiapan nabi dengan
10.000 pasukannya untuk menghadapi pasukan quraisy di mekkah dan membebaskan
kota mekkah dari kesewenang-wenangan dan kejahilan masyarakatnya.
Hatib sebenarnya seorang yang tidak diragukan
keislamannya alasan inilah yang menyebabkan hatib bin abi baltha’ah dimaafkan
nabi Muhammad dan umat islam. Sebenarnya umat islam tidak dimaksudkan
untuk orang-orang kafir quraisy, tapi hanya sekedar untuk menakut-nakuti kaum
quraisy.
Untuk masuk ke kota mekkah, nabi membagi
pasukannya menjadi empat bagian yaitu utara, selatan, timur dan barat. Sehingga
kota mekkah terkepung dari empat penjuru. . hal ini menyebabkan kaum quraisy
tidak mampu melawan kekuatan umat islam. 1 januari 630 m kota mekkah dapat
dikuasai nabi Muhammad dan umat islam. Strategi nabi Muhammad saw dalam
memasuki kota mekkah dengan cara-cara perdamaian, membuat simpati orang-orang
quraisy .
Langkah politis dan strategi nabi Muhammad
dalam fathu mekkah.
Sebelum memasuki kota mekkah, nabi Muhammad
saw memerintahkan kepada poara sahabat dan pasukannya untuk berkemah didekat
kota mekkah . hal ini dilakukan sebagai salah satu langkah poersiapan dalam
penaklukan kota mekkah . melihat kenyataan ini, paman nabi bernama abbas bin
abdul muthalib datang menemui nabi dan menyatakan keislamannya .
Setelah abu sufyan menyatakan keislamannya
nabi saw memberikan kepercayaan kepada abu sufyan untuk menjadi perantara
dengan masyarakat quraisy lainnya. Nabi Muhammad memberikan keamanan penuh
kepada abu sufyan dan keluarganya .
Kaum quraisypun mengetahui abu sufyan telah
masuk islam, akhirnya orang-orang kafir quraisy mengikuti jejak abu sufyan dan
menyatakan diri sebagai pengikut nabi Muhammad dan menjadi muslim . abu sufyan
kemudian menyampaikan pesan perdamaian yang dibawanya dari nabi saw dan
pasukannya ketika umat islam memasuki kota mekkah.
Langkah persiapan yang telah dilakukan nabi
saw membuat nabi dan pasukannya tiba di mekah tanpa perlawanan . nabi dan umat
islam masuk dengan damai tanpa setetespun darah, itu kemenangan umat islam
dalam sejarah. Setelah kota mekkah ditaklukan nabi mengunjungi ka’bah serta
melakukan tawaf . setelah itu, baru menghadapi orang-orang yang telah berkumpul
didalam masjid . nabi memaafkan semuakesalahan yang pernah mereka lakukan
nterhadap diri dan para bsahabatnya. Kemudian barulah nabi Muhammad saw
menghancurkan berhala-berhala yang mengelilingi ka’bah kurang lebih 360 berhala
dari yang kecil sampai yang besar.
Selesai membersihkan ka’bah dari
berhala-berhala pujaan kafir quraisy nabi Muhammad memerintahkan bilal bin
rabbah untuk melakukan adzan diatas ka’bah kemudian umat islam melakukan shalat
berjamaah bersama nabi Muhammad . pada hari itu tampaklah kemenangan umat islam
, karena sejak itu datang berbondong-bondong penduduk mekkah menyatakan
keislamannya dihadapan nabi Muhammad saw.
Diantara pembesar quraisy yang masuk islam
pada saat itu adalah muawiyah bin abu sufyan, hindun binti uthbah dan muth’ib
bin abu lkahab , ummu hanie binti abi thaib dan lain-lain. Selama penaklukan
kota mekkah , nabi Muhammad saw tinggal bselama 15 hari dikota ini. Dalam waktu
yang sangat singkat itu, beliau tidak saja memberi contoh cara beribadah kepada
allah . di samping juga mengatur kenegaran dan pemerintahan.
Perjanjian Aqabah Pertama Dan Kedua
Mereka telah menemui
baginda di Aqabah (sebuah tempat yang terletak di antara Mina dan Makkah) dan
seterusnya memeluk agama Islam. Mereka juga telah menyebarkan agama Islam
setelah kembali ke Madinah.
Pada 261 M, iaitu pada
musim haji yang berikutnya, sekumpulan orang Arab Madinah yang terdiri daripada
kaum Aus dan Khazraj telah mengunjungi baginda sekali lagi.
Melalui pertemuan ini
perjanjian antara Nabi Muhammad S.A.W dengan orang Madinah telah terjalin. Perjanjian
ini dikenali sebagai Perjanjian Aqabah Pertama.
Antara isi kandungan
Perjanjian Aqabah Pertama :
o
Suku kaum Aus dan
Khazraj perlu beriman kepada Allah S.W.T dan Rasul.
o
Berjanji akan membantu
perjuangan Nabi Muhammad S.A.W.
o
Tidak melakukan amalan
jahiliah seperti mencuri, minum arak dan membunuh bayi perempuan.
Nabi Muhammad S.A.W
telah menghantar Mus'ab bin Umair seorang pendakwah Islam ke Madinah untuk
menyebarkan ajaran Islam selepas Perjanjian Aqabah Pertama ini. Maka, sebelum
kehadiran Nabi Muhammad S.A.W dan orang Islam ke Madinah, agama Islam telah
tersebar di kota itu.
Perjanjian
Aqabah Kedua telah
ditandatangani pada 622 M antara Nabi Muhammad S.A.W dengan suku kaum Aus dan
Khazraj.
Antara isi kandungan
Perjanjian Aqabah Kedua :
o
Suku kaum Aus dan
Khazraj memeluk agama Islam dan mengukuhkan lagi taat setia kepada Nabi
Muhammad S.A.W.
o
Suku kaum Aus dan
Khazraj menjemput baginda dan orang Islam Makkah berhijrah ke Madinah.
o
Suku kaum Aus dan
Khazraj secara sukarela menyediakan tempat tinggal serta menjamin keselamatan
Nabi Muhammad S.A.W dan menyatakan kesediaan mereka mempertahankan Islam.
Penghijrahan orang
Islam dari Makkah ke Madinah didorong oleh kesanggupan mempertahankan Islam
serta jaminan keselamatan oleh orang Madinah. Malahan, sokongan dan bantuan
orang Arab Madinah merupakan faktor penting kejayaan hijrah ke Madinah.
Perjalanan
tentang Sejarah Kisah Hijrah Nabi Muhammad SAW
Sejarah
kisah hijrah nabi Muhammad SAW ke Madinah merupakan bagian dari sejarah Islam
dimana pada masa itu, nabi Muhammad meninggalkan Mekah dan memutuskan untuk
melanjutkan penyebaran Islam di Madinah. Perjalanan ini terjadi pada sekitar
bulan Juni tahun 622 dan berakhir ketika Mekah berhasil dikuasai oleh tentara
Muslim pada tahun 630. Ada beberapa kejadian yang terjadi sebelum nabi Muhammad
SAW memutuskan untuk melakukan hijrah ke Madinah dimana yang pertama adalah
Tahun Duka Cita karena wafatnya Khadijah, istrinya dan Abu Talib, pamannya.
Kejadian kedua adalah klaim nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa ia telah
mengalami hal yang disebut Isra’ Miraj, perjalanan spiritual menuju masjidil
Aqsa. Kejadian berikutnya adalah perjanjian Aqabah yang membuat banyak Muslim
berimigrasi menuju Abyssinia. Kejadian yang terakhir adalah percobaan
pembunuhan terhadap nabi Muhammad SAW yang gagal total.
Masa
Nabi Muhammad SAW Sebelum Hijrah
Sebelum
sejarah kisah hijrah nabi Muhammad SAW ke Madinah terjadi, nabi Muhammad SAW
tinggal di Mekah selama 52 tahun hidupnya mulai dari masa ketika ia lahir. Nabi
Muhammad SAW yang telah menjadi yatim piatu dari kecil mulai dikenal sebagai
sebuah saudagar yang jujur dan impartial dan karena hal tersebut ia juga sering
dipanggil untuk membantu menyelesaikan masalah. Karena reputasinya sebagai
orang yang jujur ini, nama Muhammad semakin dikenal dan menarik perhatian
seorang Janda di Mekah yang bernama Khadijah binti Khuwaylid. Khadijah
mendatangi nabi Muhammad SAW dengan tujuan agar Muhammad mampu memegang operasi
besarnya di Syria yang secara luar biasa dikerjakan oleh nabi Muhammad SAW.
Setelah nabi Muhammad SAW pulang dari Syria, Khadijah melamarnya, dan kejadian
ini tanpa diketahui siapapun nantinya akan menjadi salah satu batu penopang
sejarah kisah hijrah nabi Muhammad SAW ke Madinah.
Nabi
Muhammad SAW mendapat perintah untuk menjadi rasul dan menyebarkan agama Allah
yang juga terjadi sebelum perjalanannya ke Madinah ketika ia sedang bertapa di
goa Hira untuk mempertanyakan spiritualitasnya sendiri. Pada masa itu,
tiba-tiba malaikat Jibril datang dan menyuruh nabi Muhammad SAW untuk membaca
ayat yang kelak dikenal berasal dari surat al-Alaq ayat 1 hingga 5. Setelah
turunnya wahyu pertama dari Allah, nabi Muhammad SAW mulai berkeliling ke
seluruh penjuru Arab untuk menjajakan agama baru yang ia bawa. Di masa
tersebut, nabi Muhammad SAW menemui banyak penolakan oleh bangsa Arab dimana
nabi Muhammad dilecehkan atau yang paling ekstrem adalah pembunuhan
besar-besaran umat Muslim.
Sejarah
kisah hijrah nabi Muhammad SAW ke Madinah baru benar-benar dimulai dengan
terjadinya Tahun Duka Cita, yaitu sebuah tahun hijriah yang terjadi sekitar
tahun 619 atau 623. Kejadian ini ditandai dengan wafatnya istri tercintanya,
Khadijah, beserta pamannya, Abu Talib. Dengan meninggalnya Abu Talib, proteksi
terhadap nabi Muhammad SAW mulai berkurang sesuai dengan taktik awal Abu Lahab
yang berniat membunuh nabi Muhammad SAW. Bagian lainnya yang menjadi alasan
mengapa nabi Muhammad SAW memindahkan tempat kegiatan muslim menuju sebuah
lokasi lain adalah karena nabi Muhammad SAW mengalami hal yang ia sebut sebagai
Isra’ Mi’raj dan menceritakannya kepada para pengikut.
Hal yang
kemungkinan menjadi alasan utama sejarah kisah hijrah nabi Muhammad SAW ke Madinah
adalah percobaan pembunuhan yang gagal oleh kaum-kaum lainnya. Pada masa
tersebut, proteksi akan keluarganya dihapuskan yang mengantar kepada makin
terancamnya nyawa nabi Muhammad SAW. Ketika hari rencana pembunuhan tiba, nabi
Muhammad SAW meminta tolong kepada Abu Bakar dan Ali untuk tetap berada di
tempat karena banyak pekerjaan yang belum selesai. Muhammad berhasil kabur dari
penyerangan ini dengan cara mengenakan sebuah jubah lain sementara Ali
mengenakan jubah lama milik Muhammad dengan tujuan menipu mereka.
Masa-Masa
Hijrah Nabi Muhammad
Sejarah
kisah hijrah nabi Muhammad SAW ke Madinah dimulai pada tahun 622 ketika nabi
Muhammad SAW memimpin para pengikutnya dalam perjalanan dari Mekah menuju
Madinah. Perginya nabi Muhammad SAW terjadi tepat ketika kejadian pembunuhan.
Awalnya, kota Madinah yang mereka tuju tidak kalah ekstrimnya, tapi entah
bagaimana nabi Muhammad SAW mampu mentransformasikan dan mengubah nama kota
tersebut dari Yathrib menjadi Madinat un-nabi dan kembali diubah menjadi hanya
Madinah karena setelah dipikir-pikir kata “un-nabi” terdengar terlalu
eksklusif.
Pada
bagian awal sejarah kisah hijrah nabi Muhammad SAW ke Madinah, nabi Muhammad
bertemu dengan 6 orang yang merupakan anggota Khazraj, sebuah kaum yang berasal
dari Madinah. Beberapa orang Madinah dengan mudah menerima informasi dan
doktrin tentang Islam serta mulai membaca Al-Qur’an. Pada tahun 622, delegasi
Muslim Aws dan Khazraj berkumpul untuk membicarakan perkembangan Islam di
Madinah ke depannya. Kaum Aws dan Khazraj juga memastikan kepada nabi Muhammad
SAW bahwa ia akan aman dan diberikan sebuah perjanjian perlindungan non-stop
dari orang-orang tersebut.
Di dalam
sejarah hijrah Nabi ke Madinah, ada beberapa peperangan yang terjadi. Salah
satunya adalah pada Januari 623 dimana beberapa Muslim di sana terpaksa
menyerang gerobak yang mengantarkan buah dan semacamnya karena mereka tidak
dapat makan. Menurut Ar-Raheeq Al-Makhum, nabi Muhammad SAW termasuk dalam satu
tokoh yang memprakarsai penyerangan gerobak makanan ini karena terpaksa oleh
situasi kelaparan masyarakat Madinah. Di masa sekarang ini, rasanya hampir
setiap Muslim mengetahui tentang sejarah kisah hijrah nabi Muhammad SAW ke
Madinah yang terus berlanjut hingga masa dimana ia bisa kembali lagi menyerang
Mekah dan mendudukinya.
SUMBER: Buku Sejarah Kebudayaan islam
www.google.com dan www.yahoo.com
Di Sunting/Di edit: Muhammad Wahyu Fakultas Hukum Uniska 18810387
Instagram(Tokoh Publik):Wahyu_Barang
www.google.com dan www.yahoo.com
Di Sunting/Di edit: Muhammad Wahyu Fakultas Hukum Uniska 18810387

Komentar
Posting Komentar