Oleh : Adv. Muhammad Wahyu, S.H. (Advokat Publik Sarjana Halal).
Dalam perjalanan hidup, kita sering kali merasa tersesat dan tidak tahu arah. Di tengah kebingungan tersebut, muncul pemikiran bahwa lebih baik mati dengan terlihat tersesat namun tetap memberikan manfaat bagi orang lain. Hidup ini tidak hanya sekadar menjalani hari-hari dengan rutinitas yang monoton; itu lebih dari sekadar eksistensi fisik. Setiap individu memiliki potensi untuk membuat dampak yang berarti, bahkan dalam keadaan yang paling tidak pasti sekalipun.
Meskipun kita mungkin tidak memiliki tujuan yang jelas, setiap tindakan kecil yang kita lakukan bisa memberikan kontribusi besar kepada orang lain. Keberanian untuk membantu dan mendukung sesama, meski kita sendiri dalam keadaan sulit, adalah bentuk pengorbanan yang paling tulus. Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman, "Dan barangsiapa yang ingin menempuh jalan yang lurus, maka hendaklah ia memberi manfaat kepada manusia" (Q.S. Al-Baqarah: 177)【1】. Ini menunjukkan bahwa memberikan manfaat kepada orang lain adalah bagian penting dari kehidupan yang bermakna.
Dalam Injil, Yesus berkata, "Sebab, apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya? Atau apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?" (Matius 16:26)【2】. Ini menggambarkan pentingnya nilai hidup yang bermanfaat bagi orang lain, melebihi pencapaian materi semata.
Dari perspektif agama Hindu, terdapat ajaran yang berbunyi, "Brahmananda Valli" dari Upanishad yang mengajarkan pentingnya melayani sesama dan bahwa hidup yang bermakna adalah hidup yang memberi manfaat kepada orang lain【3】. Prinsip ini mendorong kita untuk melakukan tindakan baik tanpa pamrih.
Sementara itu, dalam ajaran Buddha, terdapat konsep "Karuna" (belas kasih), yang menekankan pentingnya menolong makhluk hidup dan memberikan manfaat kepada sesama. Buddha mengajarkan bahwa tindakan penuh kasih akan membawa kebahagiaan dan kedamaian, baik bagi diri sendiri maupun orang lain【4】.
Dalam budaya Dayak, terdapat peribahasa "Sangga-sangga, tubang-tubang" yang berarti saling membantu dan mendukung satu sama lain【5】. Hal ini mencerminkan semangat gotong royong yang menjadi nilai penting dalam kehidupan sosial mereka. Demikian juga, dalam budaya Banjar, terdapat pepatah "Hidup dalam raga, mati dalam berjuang" yang menegaskan pentingnya memberikan kontribusi dalam hidup, bahkan dalam keadaan sulit【6】.
Penting untuk diingat bahwa dalam memberikan manfaat, setiap individu maupun kelompok pasti memiliki perbedaan pendapat. Namun, perbedaan ini adalah bagian dari keindahan hidup. Selama tujuan kita sama, perbedaan pendapat atau jalan yang diambil tidak akan merugikan. Justru, perbedaan ini bisa memperkaya perspektif kita dan mendorong kita untuk berpikir lebih luas. Dalam semangat saling menghormati, kita dapat belajar dari satu sama lain dan menemukan cara-cara baru untuk mencapai tujuan bersama.
Ketika kita memberikan waktu, tenaga, atau perhatian kepada orang lain, kita tidak hanya memberi mereka bantuan; kita juga memberi makna pada hidup kita sendiri. Dalam proses tersebut, kita belajar tentang empati, cinta, dan arti sebenarnya dari kebersamaan. Setiap saat kita berjuang untuk orang lain, kita mengukir jejak yang akan dikenang oleh mereka yang kita bantu.
Oleh karena itu, mari kita merenungkan arti keberadaan kita di dunia ini. Bagaimana kita bisa terus memberikan yang terbaik, walaupun kita merasa tersesat? Dalam Al-Qur'an juga disebutkan, "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia" (Hadis Riwayat Ahmad)【7】. Setiap langkah yang kita ambil, tidak peduli seberapa kecil, bisa menjadi inspirasi bagi orang lain. Dengan melakukan yang terbaik dalam keadaan sulit, kita dapat menjadi cahaya harapan, menunjukkan bahwa meskipun hidup ini penuh tantangan, selalu ada jalan untuk memberi makna dan manfaat.
Mari kita jadikan hidup kita sebagai pengingat bagi orang lain bahwa meskipun tersesat, kita masih bisa menemukan cara untuk menjadi bermanfaat dan meninggalkan jejak positif di hati mereka.
Referensi :
1. Al-Qur'an. Surah Al-Baqarah: 177.
2. Injil. Matius 16:26.
3. Upanishad, Brahmananda Valli.
4. Ajaran Buddha tentang Karuna.
5. Peribahasa Dayak: "Sangga-sangga, tubang-tubang."
6. Peribahasa Banjar: "Hidup dalam raga, mati dalam berjuang."
7. Hadis Riwayat Ahmad tentang sebaik-baik manusia.
Komentar
Posting Komentar